Thursday, October 5, 2017

MISTERI MASJID JIN DI MALANG, JAWA TIMUR

Masjid jin atau yang biasa di sebut masjid tiban yang ada di Malang sempat mengundang kaget warga Negara Indonesia bahkan warga Negara asing (WNA) turut penasaran dengan masjid tersebut. Dengan bangunan yang sangat megah muncul di tahun 1978 diperkirakan menghabiskan 800 Miliar tanpa meminta sumbangan sepersenpun dari siapa saja.


Lokasi Masjid itu tepatnya berada di RT 27/RW 06, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen. Dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi mobil ataupun motor, tapi jangan lupa untuk selalu Tanya kepada penduduk sekitar agar tidak tersesat dijalan.
Loh kok bisa sih di sebut masjid jin? Padahal kan masjid itu tempat suci umat muslim.. Apa yang buat Jin? Tidak.

Masjid ini didirikan langsung oleh pemilik yang sekaligus pengasuh pondok pesantren yaitu KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rahmat Alam, sering disebut dengan Romo Kyai Ahmad. Rintisan pembangunan masjid dimulai tahun 1963 dan pembangunan fisik dimulai tahun 1978 dengan material seadanya. Seiring pembangunan tersebut mulai ada santri yang menetap. Para santri pun turut serta dalam pembangunan. Pembangunan dilakukan tahap demi tahap. Tahun 1992, pembangunan masjid sempat terhenti. Pada akhir 1998 kembali diteruskan dan hingga saat ini.

Ada sejumlah fakta yang menarik hingga ke luar negeri, berikut adalah Misteri Masjid Jin :

1. Masjid Jin dibangun tahun 1978
Namun hingga saat ini masjid yang memiliki arsitektur unik itu belum juga selesai. Bahkan, bisa jadi tidak akan pernah rampung.

2. Dibangun tanpa Gambar
Uniknya, masjid yang memiliki 10 lantai dan berdiri di lahan seluas 6,5 hektare itu dibuat tanpa ada gambar rancangan atau desain.

3. Desainnya berdasar mata batin Kiai
Desain bangunan tempat ibadah itu dibangun hanya semata-mata dengan mengandalkan mata batin melalui shalat Istikharah.

4. Memiliki ruang bawah tanah untuk beribadah
Ruangan bawah tanah dulunya masih ada stalaktit stalakmit yang sudah direnovasi untuk berwudhu sebelum menjalankan ibadah sholat bagi umat muslim.

5. Memiliki Ratusan Menara
Dari penampakannya ”Masjid Jin” memiliki  ratusan menara. Tinggi menara itu kabarnya tidak sama.

6. Berada di Komplek Pesantren Salafiah
Jika melihat dari papan nama yang terpampang di pintu masuk ”Masjid Jin”, jelas tertulis: Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah.

7. Tidak semua Ruangan Dibuka
Jadi, setiap pengunjung bisa menyaksikan setiap ruangan yang ada. Namun, tak semua ruangan bisa disaksikan pengunjung.

8. Ratusan Ruangan dalam 10 Lantai
Untuk menghitung jumlah ruangan di setiap lantai, tim juga sempat kesulitan. Selama tiga jam lebih, beberapa anggota tim disebar untuk secara khusus menghitung jumlah ruangan mulai dari lantai 1 hingga 10. Ada yang mencatat 173 ruangan ada juga 184.

9. Konstruksinya Serampangan
ada kesan kuat yang langsung tebersit. Yakni, konstruksi bangunannya terkesan tidak tertata dan sekilas agak serampangan.

10. Dominasi ornamen berwarna Biru dan Putih
Meski tak beraturan, anehnya, tetap menyenangkan jika dipandang. Salah satu sebabnya, di setiap ruangan kaya akan hiasan ornamen biru dan putih. Corak hiasannya pun seperti tidak lazim. Namun, lagi-lagi tetap menyenangkan jika dilihat.

11. Jadi tempat tinggal Kiai Sepuh
Ruangan di lantai I kebanyakan masih berupa bangunan kuno. Di lantai ini, terdapat kamar yang dulu ditinggali oleh almarhum KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rohmad Alam. Dia adalah pendiri Ponpes Salafiah Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah (selanjutnya disebut Bihaaru) yang wafat pada 2010.

12. Telan biaya Rp 800 Miliar
Angka itu dihasilkan dari penghitungan harga lahan dan bangunan. Berdasarkan data di kepala Desa Sananrejo dan camat Turen, harga tanah di area ”Masjid Jin” berkisar Rp 400 ribu per meter persegi.
Karena lahan tersebut seluas 6,5 hektare, berarti uang yang dikeluarkan untuk pembebasan lahan mencapai Rp 26 miliar (400.000 x 65.000 meter persegi).

Sementara itu, untuk biaya pembangunannya, diasumsikan Rp 2 juta per meter persegi. Dari lahan 6,5 hektare tersebut, sekitar 4 hektare sudah terisi bangunan.
Dengan demikian, bangunan satu lantai menghabiskan dana Rp 80 miliar (2.000.000 x 40.000). Karena ada 10 lantai, berarti total dana yang dikeluarkan sekitar Rp 800 miliar (80 miliar x 10 ).

13. Tidak pernah minta Sumbangan
Pengasuh Ponpes Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah KH Ahmad Hasan menyatakan, pihaknya tidak pernah menghitung jumlah dana yang dikeluarkan.
Jadi, dari mana dananya? Abah Hasan, panggilan akrab KH Ahmad Hasan, menjelaskan, ada beberapa sumber dana pembangunan. Selain uang pribadi Kiai Ahmad, juga ada sumbangan santri dan donatur.
”Kami tidak pernah meminta sumbangan. Tapi, kalau ada yang menyumbang, ya tidak apa-apa,” kata Abah Hasan.

Selain itu.. sekarang anda bisa berbelanja disana karena ada pasar di dalam masjid, tapi jangan diwaktu dzuhur ya karena ketika adzan terdengan semua toko di pasar tutup sementara dan dibuka kembali setelah sholat dzuhur.

Saya sarankan membawa sandal untuk akses kesana karena itu adalah tempat suci maka ada bagian dimana kita harus melepas alas kaki kita.

Sumber :  http://www.ponpesbibaafadlrah.or.id/?s=masjid+jin

No comments:

Post a Comment